Rabu, 14 September 2011

Pengertian kesehatan dan keselamatan kerja serta prosedur prosedurnya


1. Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja
a. Kesehatan Kerja
Pengertian sehat senantiasa digambarkan sebagai suatu kondisi fisik, mental dan sosial seseorang yang tidak saja bebas dari penyakit atau gangguan kesehatan melainkan juga menunjukan kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan dan pekerjaannya.
Paradigma baru dalam aspek kesehatan mengupayakan agar yang sehat tetap sehat dan bukan sekedar mengobati, merawat atau menyembuhkan gangguan kesehatan atau penyakit. Oleh karenanya,



perhatian utama dibidang kesehatan lebih ditujukan ke arah pencegahan terhadap kemungkinan timbulnya penyakit serta pemeliharaan kesehatan seoptimal mungkin.
Status kesehatan seseorang, menurut blum (1981) ditentukan oleh empat faktor yakni :
1. Lingkungan, berupa lingkungan fisik (alami, buatan) kimia (organik / anorganik, logam berat, debu), biologik (virus, bakteri, microorganisme) dan sosial budaya (ekonomi, pendidikan, pekerjaan).
2. Perilaku yang meliputi sikap, kebiasaan, tingkah laku.
3. pelayanan kesehatan: promotif, perawatan, pengobatan, pencegahan kecacatan, rehabilitasi, dan
4. genetik, yang merupakan faktor bawaan setiap manusia.
“pekerjaan mungkin berdampak negatif bagi kesehatan akan tetapi sebaliknya pekerjaan dapat pula memperbaiki tingkat kesehatan dan kesejahteraan pekerja bila dikelola dengan baik. Demikian pula status kesehatan pekerja sangat mempengaruhi produktivitas kerjanya. Pekerja yang sehat memungkinkan tercapainya hasil kerja yang lebih baik bila dibandingkan dengan pekerja yang terganggu kesehatannya”.
Menurut Suma’mur (1976) Kesehatan kerja merupakan spesialisasi ilmu kesehatan/kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan agar pekerja/ masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya baik fisik, mental maupun sosial dengan usaha preventif atau kuratif terhadap penyakit/ gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh faktor pekerjaan dan lingkungan kerja serta terhadap penyakit umum.
Konsep kesehatan kerja dewasa ini semakin banyak berubah, bukan sekedar “kesehatan pada sektor industri” saja melainkan juga mengarah kepada upaya kesehatan untuk semua orang dalam melakukan pekerjaannya (total health of all at work).


b. Keselamatan Kerja
Keselamatan kerja atau Occupational Safety, dalam istilah sehari hari sering disebut dengan safety saja, secara filosofi diartikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil budaya dan karyanya. Dari segi keilmuan diartikan sebagai suatu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Pengertian Kecelakaan Kerja (accident) adalah suatu kejadian atau peristiwa yang tidak diinginkan yang merugikan terhadap manusia, merusak harta benda atau kerugian terhadap proses.
Pengertian Hampir Celaka, yang dalam istilah safety disebut dengan insiden (incident), ada juga yang menyebutkan dengan istilah “near-miss” atau “near-accident”, adalah suatu kejadian atau peristiwa yang tidak diinginkan dimana dengan keadaan yang sedikit berbeda akan mengakibatkan bahaya terhadap manusia, merusak harta benda atau kerugian terhadap proses


c. Faktor Risiko di Tempat Kerja
Berkaitan dengan faktor yang mempengaruhi kondisi kesehatan kerja, seperti disebutkan diatas, dalam melakukan pekerjaan perlu dipertimbangkan berbagai potensi bahaya serta resiko yang bisa terjadi akibat sistem kerja atau cara kerja, penggunaan mesin, alat dan bahan serta lingkungan disamping faktor manusianya.
Istilah hazard atau potensi bahaya menunjukan adanya sesuatu yang potensial untuk mengakibatkan cedera atau penyakit, kerusakan atau kerugian yang dapat dialami oleh tenaga kerja atau instansi. Sedang kemungkinan potensi bahaya menjadi manifest, sering disebut resiko. Baik “hazard” maupun “resiko” tidak selamanya menjadi bahaya, asalkan upaya pengendaliannya dilaksanakan dengan baik.
Ditempat kerja, kesehatan dan kinerja seseorang pekerja sangat dipengaruhi oleh:
1. Beban Kerja berupa beban fisik, mental dan sosial sehingga upaya penempatan pekerja yang sesuai dengan kemampuannya perlu diperhatikan
2. Kapasitas Kerja yang banyak tergantung pada pendidikan, keterampilan, kesegaran jasmani, ukuran tubuh, keadaan gizi dan sebagainya.
3. lingkungan Kerja sebagai beban tambahan, baik berupa faktor fisik, kimia, biologik, ergonomik, maupun aspek psikososial.

Pengertian Sehat

Istilah sehat dalam kehidupan sehari-hari sering dipakai untuk menyatakan bahwa sesuatu dapat bekerja secara normal. Bahkan benda mati pun seperti kendaraan bermotor atau mesin, jika dapat berfungsi secara normal, maka seringkali oleh pemiliknya dikatakan bahwa kendaraannya dalam kondisi sehat. Kebanyakan orang mengatakan sehat jika badannya merasa segar dan nyaman. Bahkan seorang dokterpun akan menyatakan pasiennya sehat manakala menurut hasil pemeriksaan yang dilakukannya mendapatkan seluruh tubuh pasien berfungsi secara normal. Namun demikian, pengertian sehat yang sebenarnya tidaklah demikian. Pengertian sehat menurut UU Pokok Kesehatan No. 9 tahun 1960, Bab I Pasal 2 adalah keadaan yang meliputi kesehatan badan (jasmani), rohani (mental), dan sosial, serta bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan. Pengertian sehat tersebut sejalan dengan pengertian sehat menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1975 sebagai berikut: Sehat adalah suatu kondisi yang terbebas dari segala jenis penyakit, baik fisik, mental, dan sosial.
Batasan kesehatan tersebut di atas sekarang telah diperbaharui bila batasan kesehatan yang terdahulu itu hanya mencakup tiga dimensi atau aspek, yakni: fisik, mental, dan sosial, maka dalam Undang- Undang N0. 23 Tahun 1992, kesehatan mencakup 4 aspek, yakni: fisik (badan), mental (jiwa), sosial, dan ekonomi. Batasan kesehatan tersebut diilhami oleh batasan kesehatan menurut WHO yang paling baru. Pengertian kesehatan saat ini memang lebih luas dan dinamis, dibandingkan dengan batasan sebelumnya. Hal ini berarti bahwa kesehatan seseorang tidak hanya diukur dari aspek fisik, mental, dan sosial saja, tetapi juga diukur dari produktivitasnya dalam arti mempunyai pekerjaan atau menghasilkan sesuatu secara ekonomi.
Bagi yang belum memasuki dunia kerja, anak dan remaja, atau bagi yang sudah tidak bekerja (pensiun) atau usia lanjut, berlaku arti produktif secara sosial. Misalnya produktif secara sosial-ekonomi bagi siswa sekolah atau mahasiswa adalah mencapai prestasi yang baik, sedang produktif secara sosial-ekonomi bagi usia lanjut atau para pensiunan adalah mempunyai kegiatan sosial dan keagamaan yang bermanfat, bukan saja bagi dirinya, tetapi juga bagi orang lain atau masyarakat.
Keempat dimensi kesehatan tersebut saling mempengaruhi dalam mewujudkan tingkat kesehatan seseorang, kelompok atau masyarakat.
Itulah sebabnya, maka kesehatan bersifat menyeluruh mengandung keempat aspek. Perwujudan dari masing-masing aspek tersebut dalam kesehatan seseorang antara lain sebagai berikut:
1. Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.
2. Kesehatan mental (jiwa) mencakup 3 komponen, yakni pikiran, emosional, dan spiritual.
• Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran.
• Emosional sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosinya, misalnya takut, gembira, kuatir, sedih dan sebagainya.
• Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa (Allah SWT dalam agama Islam). Misalnya sehat spiritual dapat dilihat dari praktik keagamaan seseorang.
Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan agama yang dianutnya.
3. Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayan, status sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan menghargai.
4. Kesehatan dari aspek ekonomi terlihat bila seseorang (dewasa) produktif, dalam arti mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong terhadap hidupnya sendiri atau keluarganya secara finansial. Bagi mereka yang belum dewasa (siswa atau mahasiswa) dan usia lanjut (pensiunan), dengan sendirinya batasan ini tidak berlaku. Oleh sebab itu, bagi kelompok tersebut, yang berlaku adalah produktif secara sosial, yakni mempunyai kegiatan yang berguna bagi kehidupan mereka nanti, misalnya berprestasi bagi siswa atau mahasiswa, dan kegiatan sosial, keagamaan, atau pelayanan kemasyarakatan lainnya bagi usia lanjut.

Pengertian Kesehatan Lingkungan Menurut WHO

Pengertian Kesehatan Lingkungan sehat menurut WHO adalah “Keadaan yg meliputi kesehatan fisik, mental, dan sosial yg tidak hanya berarti suatu keadaan yg bebas dari penyakit dan kecacatan.”.


Sedangkan menurut UU No 23 / 1992 Tentang kesehatan “Keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.”BM6UYQRCDWWS
Kesehatan Lingkungan Sekolah, Kesehatan Lingkungan Masyarakat, Kesehatan Lingkungan Kerja, Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, Kesehatan Lingkungan Hidup, Kesehatan Lingkungan Pemukiman, Kesehatan Lingkungan ppt, Kesehatan Lingkungan Industri, Kesehatan Lingkungan Puskesmas
Pengertian Lingkungan Menurut A.L. Slamet Riyadi (1976) adalah ”Tempat pemukiman dengan segala sesuatunya dimana organismenya hidup beserta segala keadaan dan kondisi yang secara langsung maupun tidak dpt diduga ikut mempengaruhi tingkat kehidupan maupun kesehatan dari organisme itu.”
Terdapat beberapa pendapat tentang pengertian Kesehatan Lingkungan sebagai berikut :
a. Pengertian Kesehatan Lingkungan Menurut World Health Organisation (WHO) pengertian Kesehatan Lingkungan : Those aspects of human health and disease that are determined by factors in the environment. It also refers to the theory and practice of assessing and controlling factors in the environment that can potentially affect health. Atau bila disimpulkan “Suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia.”
b. Menurut HAKLI (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia) “Suatu kondisi lingkungan yang mampu menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia dan lingkungannya untuk mendukung tercapainya kualitas hidup manusia yang sehat dan bahagia.”
c. Apabila disimpulkan Pengertian Kesehatan Lingkungan adalah “ Upaya perlindungan, pengelolaan, dan modifikasi lingkungan yang diarahkan menuju keseimbangan ekologi pada tingkat kesejahteraan manusia yang semakin meningkat.”
Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan
Kontribusi lingkungan dalam mewujudkan derajat kesehatan merupakan hal yang essensial di samping masalah perilaku masyarakat, pelayanan kesehatan dan faktor keturunan. Lingkungan memberikan kontribusi terbesar terhadap timbulnya masalah kesehatan masyarakat.
Ruang lingkup Kesehatan lingkungan adalah :
a. Menurut WHO
1) Penyediaan Air Minum
2) Pengelolaan air Buangan dan pengendalian pencemaran
3) Pembuangan Sampah Padat
4) Pengendalian Vektor
5) Pencegahan/pengendalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia
6) Higiene makanan, termasuk higiene susu
7) Pengendalian pencemaran udara
8) Pengendalian radiasi
9) Kesehatan kerja
10) Pengendalian kebisingan
11) Perumahan dan pemukiman
12) Aspek kesling dan transportasi udara
13) Perencanaan daerah dan perkotaan
14) Pencegahan kecelakaan
15) Rekreasi umum dan pariwisata
16) Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi/wabah, bencana alam dan perpindahan penduduk.
17) Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin lingkungan.
b. Menurut UU No 23 tahun 1992 Tentang Kesehatan (Pasal 22 ayat 3), ruang lingkup kesehatan lingkungan sebagai berikut :
1) Penyehatan Air dan Udara
2) Pengamanan Limbah padat/sampah
3) Pengamanan Limbah cair
4) Pengamanan limbah gas
5) Pengamanan radiasi
6) Pengamanan kebisingan
7) Pengamanan vektor penyakit

Pencapaian Program Kesehatan dan Kesehatan Lingkungan

Untuk menilai keadaan lingkungan dan upaya yang dilakukan untuk menciptakan lingkungan sehat telah dipilih empat indikator, yaitu persentase keluarga yang memiliki akses air bersih, presentase rumah sehat, keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar, Tempat Umum dan Pengolahan Makanan (TUPM) .


Beberapa upaya untuk memperkecil resiko turunnya kualitas lingkungan telah dilaksanakan oleh berbagai instansi terkait seperti pembangunan sarana sanitasi dasar, pemantauan dan penataan lingkungan, pengukuran dan pengendalian kualitas lingkungan.
Pembangunan sarana sanitasi dasar bagi masyarakat yang berkaitan langsung dengan masalah kesehatan meliputi penyediaan air bersih, jamban sehat, perumahan sehat yang biasanya ditangani secara lintas sektor. Sedangkan dijajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang kegiatan yang dilaksanakan meliputi pemantauan kualitas air minum, pemantauan sanitasi rumah sakit, pembinaan dan pemantauan sanitasi tempat-tempat umum (Hotel, Terminal), tempat pengolahan makanan, tempat pengolahan pestisida dan sebagainya.


Didalam memantau pelaksanaan program kesehatan lingkungan dapat dilihat beberapa indikator kesehatan lingkungan sebagai berikut:
  1. Penggunaan Air Bersih
    Untuk tahun 2007 jumlah keluarga yang diperiksa yang memiliki akses air bersih 72,35%. Dari hasil inspeksi sanitasi petugas Puskesmas penggunaan air bersih pada setiap keluarga yang paling tertinggi adalah sumur gali +34,99%, sumur pompa tangan +31,86% ledeng +18,59.
  2. Rumah Sehat
    Bagi sebagian besar masyarakat, rumah merupakan tempat berkumpul bagi semua anggota keluarga dan menghabiskan sebagian besar waktunya, sehingga kondisi kesehatan perumahan dapat berperan sebagai media penularan penyakit diantara anggota keluarga atau tetangga sekitarnya.

    Pada tahun 2007 telah dilakukan pemeriksaan rumah sehat di 40 wilayah Puskesmas di kab.Tangerang, dari hasil inspeksi sanitasi 560.426 rumah maka 68,34% dinyatakan sehat.

    Dari data yang ada maka program sosialisasi terhadap masyarakat untuk membangun rumah sehat perlu terus dilakukan sehingga pencegahan terhadap perkembangan vektor penyakit dapat diperkecil, demikian pula penyebab penyakit lainnya di sekitar rumah.
  3. Keluarga Dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar.
    Keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar meliputi persediaan air bersih, kepemilikan jamban keluarga, tempat sampah dan pengelolaan air limbah keluarga keseluruhan hal tersebut sangat diperlukan didalam peningkatan kesehatan lingkungan.

    Dari hasil pendataan yang dilakukan oleh sanitasi Puskesmas menggambarkan sampai tahun 2007 dapat digambarkan pada grafik berikut.



    Persentase Keluarga Dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar Tahun 2005 dan 2007






    Dari data diatas menunjukkan bahwa tahun 2007 kepemilikan sarana sanitasi dasar di Kab.Tangerang sedikit meningkat dibandingkan tahun 2006, dapat diasumsikan bahwa kondisi ini menunjukan adanya peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya sarana sanitasi dasar.

Kesehatan Lingkungan Air Bersih, Sampah dan Sanitasi

Salah satu kebutuhan penting akan kesehatan lingkungan adalah masalah air bersih, persampahan dan sanitasi, yaitu kebutuhan akan air bersih, pengelolaan sampah yang setiap hari diproduksi oleh masyarakat serta pembuangan air limbah yang langsung dialirkan pada saluran/sungai. Hal tersebut menyebabkan pandangkalan saluran/sungai, tersumbatnya saluran/sungai karena sampah. Pada saat musim penghujan selalu terjadi banjir dan menimbulkan penyakit.
Beberapa penyakit yang ditimbulkan oleh sanitasi yang kurang baik serta pembuangan sampah dan air limbah yang kurang baik diantaranya adalah:
  1. Diare
  2. Demam berdarah
  3. Disentri
  4. Hepatitis A
  5. Kolera
  6. Tiphus
  7. Cacingan
  8. Malaria
Kesehatan Lingkungan Sekolah, Kesehatan Lingkungan Masyarakat,  Kesehatan Lingkungan Kerja, Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, Kesehatan  Lingkungan Hidup, Kesehatan Lingkungan Pemukiman, Kesehatan Lingkungan  ppt, Kesehatan Lingkungan Industri, Kesehatan Lingkungan Puskesmas
Mengapa BAB harus sehat??kenapa jamban yang kita miliki harus sehat??? mungkin ini yang belum pernah terpikirkan oleh sebaian besar masyarakat pedesaan kita. dari penjelasan di atas sudah dapat diketahui penyakit yang timbul akaibat BAB dan jamban tidak sehat. jamban sendiri Merupakan tempat penampung kotoran manusia yang sengaja dibuat untuk mengamankannya, dengan tujuan:
  1. Mencegah terjadinya penyebaran langsung bahan-bahan yang berbahaya bagi manusia akibat pembuangan kotoran manusia.
  2. Mencegah vektor pembawa untuk menyebarkan penyakit pada pemakai dan lingkungan sekitarnya
kesling11.jpg Lalat yang hinggap disampah dan dipermukaan air limbah atau tikus selokan yang masuk kedalam saluran air limbah dapat membawa sejumlah kuman penyebab penyakit. Bila lalat atau tikus tersebut menyentuh makanan atau minuman maka besar kemungkinan orang yang menelan makanan dan minuman tersebut akan menderita salah satu penyakit seperti yang tersebut diatas. Demikian pula dengan anak-anak kecil yang bermain atau orang dewasa yang bekerja didekat atau mengalami kontak langsung dengan air limbah dan sampah dapat terkena penyakit seperti yang tersebut diatas, terutama bila tidak membersihkan anggota badan terlebih dahulu.
  1. Air limbah dapat dikelompokkan kedalam 2 bagian, yaitu:
  2. Air bekas yang berasal dari bak atau lantai cuci piring atau peralatan rumah tangga, lantai cuci pakaian dan kamar mandi
  3. Lumpur tinja yang berasal dari jamban atau water closet (WC)
Tangki septic atau unit pengolahan air limbah terpusat diperlukan guna mengolah air limbah sebelum dibuang kesuatu badan air. Disamping untuk mencegah pencemaran termasuk diantaranya organisme penyebab penyakit, pengolahan air limbah dimaksudkan untuk mengurangi beban pencemaran atau menguraikan pencemar sehingga memenuhi persyaratan standar kualitas ketika dibuang kesuatu badan air penerima.
Sampah dan air limbah mengandung berbagai macam unsur seperti gas-gas terlarut, zat-zat padat terlarut, minyak dan lemak serta mikroorganisme. Mikroorganisme yang terkandung dalam sampah dan air limbah dapat berupa organisme pengurai dan penyebab penyakit. Penanganan sampah dan air limbah yang kurang baik seperti:
  1. Pengaliran air limbah ke dalam saluran terbuka
  2. Dinding dan dasar saluran yang rusak karena kurang terpelihara
Pembuangan kotoran dan sampah kedalam saluran yang menyebabkan penyumbatan dan timbulnya genangan akan mempercepat berkembangbiaknya mikroorganisme atau kuman-kuman penyebab penyakit, serangga dan mamalia penyebar penyakit seperti lalat dan tikus.
Suatu badan air seperti sungai atau laut mempunyai kapasitas penguraian tertentu. Bila air limbah langsung dimasukkan begitu saja kedalam badan air tanpa dilakukan suatu proses pengolahan, maka suatu saat dapat menimbulkan terjadinya pencemaran lingkungan. Pencemaran tersebut berlangsung bila kapasitas penguraian limbah yang terdapat dalam badan air dilampaui sehingga badan air tersebut tidak mampu lagi melakukan proses pengolahan atau penguraian secara alamiah. Kondisi yang demikian dinamakan kondisi septik atau tercemar yang ditandai oleh:
  1. Timbulnya bau busuk
  2. Warna air yang gelap dan pekat
  3. Banyaknya ikan dan organisme air lainnya yang mati atau mengapung.

Pola Hidup Bersih dan Sehat

Hidup bersih dan sehat dapat diartikan sebagai hidup di lingkungan yang memiliki standar kebersihan dan kesehatan serta menjalankan pola/perilaku hidup bersih dan sehat. Lingkungan yang sehat dapat memberikan efek terhadap kualitas kesehatan. Kesehatan seseorang akan menjadi baik jika lingkungan yang ada di sekitarnya juga baik. Begitu juga sebaliknya, kesehatan seseorang akan menjadi buruk jika lingkungan yang ada di sekitarnya kurang baik. Dalam penerapan hidup bersih dan sehat dapat dimulai dengan mewujudkan lingkungan yang sehat. Lingkungan yang sehat memiliki ciri-ciri tempat tinggal (rumah) dan lingkungan sekitar rumah yang sehat

Kesehatan Lingkungan Membudayakan Hidup Bersih

Sanitasi merupakan salah satu komponen dari kesehatan lingkungan, yaitu perilaku yang disengaja untuk membudayakan hidup bersih untuk mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya, dengan harapan dapat menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia. Dalam penerapannya di masyarakat, sanitasi meliputi penyediaan air, pengelolaan limbah, pengelolaan sampah, kontrol vektor, pencegahan dan pengontrolan pencemaran tanah, sanitasi makanan, serta pencemaran udara.
Kesehatan Lingkungan Sekolah, Kesehatan Lingkungan Masyarakat,  Kesehatan Lingkungan Kerja, Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, Kesehatan  Lingkungan Hidup, Kesehatan Lingkungan Pemukiman, Kesehatan Lingkungan  ppt, Kesehatan Lingkungan Industri, Kesehatan Lingkungan Puskesmas
Kesehatan lingkungan di Indonesia masih memprihatinkan. Belum optimalnya sanitasi di Indonesia ini ditandai dengan masih tingginya angka kejadian penyakit infeksi dan penyakit menular di masyarakat. Pada saat negara lain pola penyakit sudah bergeser menjadi penyakit degeneratif, Indonesia masih direpotkan oleh kasus demam berdarah, Diare, Kusta, serta Hepatitis A yang seakan tidak ada habisnya.
Kondisi sanitasi di Indonesia memang tertinggal cukup jauh dari negara-negara tetangga. Dengan Vietnam saja Indonesia hampir disalip, apalagi dibandingkan dengan Malaysia atau Singapura yang memiliki komitmen tinggi terhadap kesehatan lingkungan di negaranya. Jakarta hanya menduduki posisi nomor dua dari bawah setelah Vientianne (Laos) dalam pencapaian cakupan sanitasinya.
Sanitasi sangat menentukan keberhasilan dari paradigma pembangunan kesehatan lingkungan lima tahun ke depan yang lebih menekankan pada aspek pencegahan (preventif) daripada aspek pengobatan (kuratif). Dengan adanya upaya preventif yang baik, angka kejadian penyakit yang terkait dengan kondisi lingkungan dapat dicegah. Selain itu anggaran yang diperlukan untuk preventif juga relatif lebih terjangkau dari pada melakukan upaya kuratif.
Anggaran pemerintah untuk kesehatan lingkungan masih relatif minim. Dari anggaran yang masih minim tersebut, sanitasi tidak berada di urutan yang dijadikan prioritas utama. Besarnya investasi untuk pengembangan sanitasi diperkirakan hanya Rp20/orang/tahun, lebih rendah dari yang dibutuhkan sebesar Rp40,000/orang/tahun. Buruknya sanitasi ini menyebabkan kerugian terhadap ekonomi Indonesia sebesar 6,3 milyar dolar AS setiap tahun pada tahun 2006, ini setara dengan 2.3% Produk Domestik Bruto (PDB) kita. Pemerintah juga bekerjasama dengan beberapa negara berkembang untuk meningkatkan fasilitas sanitasi dan kondisi penyediaan air bersih, khususnya di daerah pedesaan. Sangat miris rasanya jika kita masih memerlukan dana negara lain untuk membangun sanitasi di negeri sendiri.
Selain pemerintah, masyarakat juga memiliki peran yang sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang sehat. Saat ini masih banyak masyarakat yang belum sadar akan pentingnya sanitasi. Salah seorang praktisi kesehatan lingkungan menyatakan bahwa di pelosok desa masih ditemui masyarakat yang lebih memilih untuk buang air besar (BAB) di sawah daripada membangun WC untuk menjaga kesehatan diri dan lingkungan sekitarnya.
Mind set masyarakat seperti itulah yang perlu diubah. Sanitasi bukan hanya kewajiban, tetapi suatu kebutuhan akan kesehatan lingkungan. Kita tentu tidak ingin dikenal sebagai sebuah negara yang warganya masih BAB (buang air besar) sembarangan, seperti dikatakan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, yang menargetkan bebas BAB pada akhir tahun 2014. "BAB saja masih sembarangan, apa kata dunia?".




Lingkungan Yang Sehat dan Rumah Sehat



imah-sunda
A.Rumah.
Rumah sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia merupakan tempat untuk membangun kehidupan keluarga. Untuk itu rumah seharusnya dapat memberikan wadah bagi kegiatan seluruh anggopta keluarga dengan baik.
1.Arti rumah bagi keluarga sebagai :
a. Tempat untuk berlindung.
Keluarga bertempat tinggal dalam rumah untuk melindungi diri dari panas, hujan, angin, dan gangguan lainnya, sehingga dapat tinggal dengan rasa aman.
b. Tempat pembinaan keluarga.
Rumah sebagai tempat tinggal dan pertumbuhan keluarga mempunyai peranan yang besar dalam pembinaan watak penghuninya. Rumah hendaknya dapat menjadi wadah kegiatan pembinaan keluarga melalui bimbingan pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang baik.
Karena rumah merupakan tempat pendidikan yang pertama dan utama bagi keluaraga, terutama bagi pengembangan kepribadian anak.
Dengan mempersiapkan rumah yang memenuhi syarat, diharapkan dapat menampung kegiatan pembinaan bagi anggota keluarga dan mendorong terciptanya kerukunan dankebahagiaan keluarga.
c. Tempat kegiatan keluarga.
Rumah sebagai tempat pertemuan berbagai kegiatan keluarga, mempunyai arti yang penting dalam memberikan ruang dan suasana yang menunjang kegiatan itu sendidri. Sehingga didalam rumah keluarga dapat menjalankan kegiatan dengan rasa senang, tenteram dan nyaman tenteram dan nyaman. Untuk mencapai keadaan ini, perlu dipersiapkan rumah sehat yang dapat menampung anggota keluarga dalam melakukan kegiatan dan kebiasaannya dengan baik. Rumah sehat dan nyaman akan berpengaruh pada kesehatan
jasmani dan rohani anggota keluarga itu sendiri.
2. Syarat rumah sehat.
a.memenuhi segi kesehatan Artinya bagian bagian rumah yang mempengaruhi kesehatan keluarga hendaknya dipersiapkan dengan baik
terutama :
  • Penerangan dan per anginan dalam setiap ruang harus cukup.
  • Penyediaan air bersih.
  • pengaturan pembuangan air linmbah, kotoran manusia dan sampah tidak menimbulkan pencemaran.
  • Luas rumah yang sebanding dengan jumlah penghuni.
  • Bagian bagian ruang seperti lantai dan dinding tidak lembab.
  • Tidak terjadi pencamaran seperti bau, rembesan air kotor, udara kotor, dan sebagainya.
b.Memenuhi segi kekuatan bangunan.
Artinya bagian bagian dari bangunan rumah mempunyai konstruksi dan bahan bangunan yang dapat dijamin keamanannya seperti :
  • Konstruksi bangunan yang cuckup kuat, baik untuk menahan beratnya sendiri maupan pengaruh luar seperti angin, hujan, gempa dan lain lain
  • Pemakaina bahanbangunan yang bisa dijamin keawetan dan kemudahan dalam pemeliharaan.
  • Penggunaaan bahan tahan api, untuk bagian yang mudah terbakar, dan bahan tahan air untuk bagian yang selalu basah.
c. Memperhatikan segi kenyamanan.
Agar keluarga dapat tinggal dengan nyaman dan dapat melakukan kegiatan dengan mudah, diperlukan :
  • Penyediaan ruangan yang mencukupi
  • Ukuran ruangan yang sesuai dengan kegiatan penghuni didalamnya.
  • Penataan ruangan yang cukup baik.
  • Dekorasi dan warna ruangan yang serasi.
  • Penghijauan halaman diatur sesuai kebutuhan.
d. Memenuhi Segi keterjangkauan
Hendaknya rumah dibangun, dilengkapi dan dipelihara dengan dana yang sesuai dengan kemampuan keluarga
B.Lingkungan perumahan
Lingkungan perumahan merupakan kumpulan dari rumah rumah yang dilengkapi dengan prasarana jaringan pelayanan umum fasilitas sosial yang dibutuhkan untuk memudahkan kegiatan masyarakat dilingkungan tersebut. Letak suatu lingkungan perumahan harus didalam daerah yang diperuntukan bagi perumahan, dan bukan dilingkungan industri besar atau pabrik.
1.Hal hal yang harus dipenuhi untuk suatu perumahan adalah :
  • Penyediaan prasarana yang cukup memadai, seperti jalan, saluran pembuangan air limbah, dan saluran air hujan.
  • Penyedian jaringan pelayanan umum ( utilitas umum ) adalah bangunan bangunan yang dibutuhkan dalam mengelola pelayanan lingkungan seperti :
  • – Jaringan listrik
  • – jaringan air bersih
  • – Jaringan telepon
  • – Pemadam kebakaran
  • – dan sebagainya.
c. Penyediaan fasilitas sosial perumahan.
Untuk memudahkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya seperti :
  • - Fasilitas ibadah : langgar, mesjid dan sebagainya
  • - Fasilitas kesehatan : Puskesmas, Dokter, Bidan dsbnya
  • - Fasilitas perbelanjaan : pasar, warung, toko, mall dsbnya
  • - Fasilitas kebersihan : Pelayanan pembuanagn sampah lingkungan,MCK dsbnya.
- Fasilitas pendidikan : Sekolah ( TK, SD, SMP, SMA dsbnya)
- Fasilitas Rekreasi : Tempat olah raga, Tempat bermain anak dansebagainya.
- Fasilitas lainnya : gedung/ balai pertemuan dsbnya.
Jkt-Bdg2. Syarat lingkungan perumahan sehat.
Memenuhi segi penyehatan lingkungan. Artinya komponen komponen lingkungan perumahan yang mempengaruhi kesehatan masyarakat hendaknya dilengkapi sesuai dengan kebutuhan, seperti :
  • Penyedian prasarana lingkungan yang memadai, sehingga memenuhi kebutuhan masyarakat
  • Penyediaan fasilitas lingkungan sesuai dengan banyaknya masyarakat yang dilayani.
  • Pengamanan lingkungan perumahan terhadap pencemaran seperti pemeliharaan sumber sumber air bersih, pembuangan sampah dan air limbah yang tidak mengganggu dan lain lain.

b. Memenuhi segi ketertiban.

Lingkungan perumahan yang tertib dibangun dengan mematuhi peraturan dan petunjuk petunjuk yang berlaku disuatu daerah, lingkungan perumahan akan terhindar dari kenungkinan bencana ( runtuh, kebakaran dsb)
c. Memperhatikan keserasian lingkungan
Melestarikan pohon pelindung dan tanaman, disamping untuk penyegaran udara dan memberikan pemandangan indah, juga bermanfaat untuk menguatkan tanah dan penyimpanan air tanah
  • - Memberi penerangan alami dan buatan yang mencukupi.
  • - Mengatur tata letak perumahan sehingga cukup serasi.

Kesehatan Lingkungan Sekolah Siswa

HUBUNGAN
ANTARA HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA TENTANG PENDIDIKAN KEPENDUDUKAN DAN
LINGKUNGAN HIDUP (PKLH) DAN SIKAP SISWA TERHADAP KESEHATAN LINGKUNGAN DENGAN
PARTISIPASI
SISWA DALAM
KEGIATAN KESEHATAN LINGKUNGAN SEKOLAH
Kesehatan Lingkungan Sekolah, Kesehatan Lingkungan Masyarakat,  Kesehatan Lingkungan Kerja, Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, Kesehatan  Lingkungan Hidup, Kesehatan Lingkungan Pemukiman, Kesehatan Lingkungan  ppt, Kesehatan Lingkungan Industri, Kesehatan Lingkungan Puskesmas
A. Latar
Belakang Masalah
Belajar merupakan
suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu
itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Perubahan tersebut akan
nampak dalam penguasaan pola-pola respons yang baru terhadap lingkungan, yang
berupa keterampilan, kebiasaan, sikap, kecakapan, pengetahuan, pengalaman
apresiasi dan sebagainya. Dengan demikian hasil belajar ditandai dengan adanya
perubahan seluruh aspek tingkah laku (Mohammad Surya, 1992 : 23-25).
Masalah
kependudukan dan lingkungan hidup pada hakekatnya adalah masalah kemanusiaan
yang erat hubungannya dengan sistem nilai, adat istiadat, dan agama dalam
mengendalikan eksistensi sebagai penduduk dan pengelolaan lingkungan hidup.
Oleh karena itu cara mengatasinya tidak dapat hanya dengan melakukan
usaha-usaha yang bersifat teknis semata-mata, melainkan haruslah ada usaha yang
bersifat edukatif dan persuasif. Dengan demikian akan dapat dilakukan usaha ke
arah perubahan sikap dan perilaku yang sudah lama melekat dalam masyarakat.
Kegiatan yang dimaksudkan adalah pelaksanaan Pendidikan Kependudukan dan
Lingkungan Hidup (PKLH), yaitu program pendidikan untuk membina anak didik agar
memiliki pengertian, kesadaran, sikap dan tingkah lakukependudukan dan
lingkungan hidup secara rasional dan bertanggung jawab dari segi sosial,
politik, ekonomi, dan kesejahteraan keluarga, masyarakat, lingkungan hidup
negaranya, dan manusia pada umumnya (Nana Sudjana dan Dendasurono
Prawiroatmodjo (1989 : 9).
Sikap
memiliki tiga komponen sikap, yaitu : 1) komponen kognisi yang hubungannya
dengan beliefs, ide dan konsep, 2)
komponen afeksi yang menyangkut kehidupan emosional seseorang, dan 3) komponen
konasi yang merupakan kecenderungan bertingkah laku. Untuk lebih menjelaskan
konteks sikap, perlu dibedakan terlebih dahulu fungsi sikap dan kejadian.
Karakteristik dari sikap senantiasa mengikutsertakan segi evaluasi yang berasal
dari komponen afeksi (Mar’at, 1981 : 13). Sikap siswa terhadap kesehatan lingkungan
akan melahirkan tindakan atau perilaku siswa, apakah ia akan peduli atau tidak
peduli terhadap masalah kesehatan lingkungan.
Usaha
kesehatan lingkungan merupakan salah satu usaha dari enam usaha dasar kesehatan
masyarakat. Enam usaha dasar kesehatan masyarakat tersebut, yaitu : 1)
pemeliharaan dokumen kesehatan, 2) pendidikan kesehatan, 3) kesehatan
lingkungan, 4) pemberantasan penyakit menular, 5) kesejahteraan ibu dan anak,
dan 6) pelayanan medis dan perawatan kesehatan. Di antara sekian banyak kegiatan
kesehatan lingkungan, dapat disebutkan program atau kegiatan penyediaan air
minum, pengolahan dan pembuangan limbah cair, gas, dan padat, mencegah
kebisingan, mencegah kecelakaan, mencegah penyebaran penyakit bawaan air,
udara, makanan, dan vektor, pengelolaan kualitas lingkungan air, udara,
makanan, pemukiman, dan bahan berbahaya (Juli Soemirat Slamet, 1994 : 6-7).
Kesehatan
lingkungan sekolah di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia, pada
umumnya masih rendah. Sebagai contoh, penyediaan fasilitas toilet yang tidak
memadai dengan jumlah warga sekolah, ruangan belajar yang berdempetan karena
lahan sempit sementara jumlah ruangan banyak, saluran pembuangan limbah yang
tidak lancar, persediaan air bersih yang tidak memadai, dan lain sebagainya.
Kesehatan lingkungan sekolah sangat besar pengaruhnya terhadap prestasi atau
hasil belajar siswa. Kesehatan lingkungan juga mempengaruhi pembentukan sikap
siswa terhadap lingkungannya, sehingga pada akhirnya juga akan sangat
menentukan partisipasi siswa dalam kegiatan kesehatan lingkungan, khususnya di
lingkungan sekolah.
Lingkungan
sekolah yang sehat antara lain adalah dengan tersedianya fasilitas toilet yang
memadai dengan jumlah siswa dan warga sekolah lainnya, persediaan air bersih
yang cukup, terdapatnya tanaman penghijauan yang menambah kadar oksigen dan
keteduhan, saluran air limbah yang baik, lingkungan yang tidak terlalu bising,
disamping keharusan adanya Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Dalam hal ini,
kesehatan lingkungan di SMU Negeri 1 Tasikmalaya masih kurang memadai, terutama
misalnya dalam penyediaan fasilitas toilet yang tidak seimbang dengan jumlah
siswa dan warga sekolah lainnya, penyediaan air bersih yang kurang mencukupi,
ruangan istirahat yang tidak memadai, kurangnya tanaman penghijauan di halaman
sekolah, dan lain sebagainya.
Dalam usaha memelihara dan meningkatkan
lingkungan sekolah yang bersih dan sehat, maka sebaiknya ditingkatkan
partisipasi siswa dalam usaha kesehatan lingkungan sekolah. Partisipasi siswa
dapat dalam bentuk partisipasi tenaga, partisipasi buah pikiran, atau pun
partisipasi harta-benda. Partisipasi tenaga dapat dalam bentuk terjun langsung
secara fisik seperti menyapu halaman, membersihkan selokan, dan lainnya.
Partisipasi buah pikiran dapat berbentuk ide untuk menyediakan tempat sampah
dengan bentuk yang indah dan menarik. Sedangkan partisipasi harta benda dapat
dalam bentuk menyumbangkan alat-alat kebersihan seperti sapu ijuk dan sapu
lidi.
B. Kerangka
Pemikiran
Setiap
individu memiliki hasil belajar kognitif PKLH yang berbeda. Individu yang memiliki hasil belajar kognitif PKLH yang
tinggi cenderung untuk memiliki partisipasi yang tinggi dalam kesehatan
lingkungan.
Agar
diperoleh partisipasi siswa yang tinggi dalam kegiatan kesehatan lingkungan,
maka diperlukan peningkatan proses belajar mengajar tentang PKLH yang lebih
efektif dan efisien bagi para siswa.
Edi
Hernawan (1999) mengemukakan hasil penelitiannya tentang Perbedaan Hasil
Belajar Kognitif PKLH dan Sikap Siswa Sekolah Dasar Terhadap Lingkungan Hidup
Antara Siswa SD Negeri di Kota dan di Luar Kota Tasikmalaya, bahwa hasil
belajar kognitif PKLH dan sikap terhadap lingkungan hidup siswa yang berasal
dari SD Negeri di kota Tasikmalaya lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang
berasal dari SD Negeri di luar kota Tasikmalaya. Hal ini disebabkan siswa di
kota memiliki fasilitas belajar dan bahan bacaan, khususnya bahan bacaan
tentang lingkungan hidup, yang lebih lengkap. Selain itu, pembinaan terhadap
siswa oleh guru-guru di SD Negeri kota Tasikmalaya lebih terarah, karena
guru-guru di kota juga memiliki bahan-bahan bacaan, khususnya bahan bacaan
tentang lingkungan hidup, yang lebih lengkap dibandingkan dengan guru-guru di
luar kota.
Hasil
penelitian ini membuktikan bahwa ada perbedaan yang nyata antara hasil belajar
kognitif PKLH siswa yang berasal dari SD kota dengan siswa yang berasal dari SD
luar kota.
Setiap
individu memiliki sikap yang berbeda terhadap kesehatan lingkungan. Individu
yang memiliki sikap yang lebih baik terhadap kesehatan lingkungan cenderung
untuk memiliki partisipasi yang tinggi dalam kegiatan kesehatan lingkungan.
Agar
diperoleh partisipasi yang tinggi dalam kegiatan kesehatan lingkungan, maka
diperlukan pembinaan sikap siswa yang lebih baik dan positip dalam kegiatan
kesehatan lingkungan.
Tarjuki
(2000) mengemukakan hasil penelitiannya tentang Hubungan Antara Pengetahuan
Lingkungan dan Prestasi Belajar Siswa Dengan Partisipasi Siswa Dalam
Pemeliharaan Lingkungan Sekolah di SLTP Negeri 1 Gandrungmangu Kabupaten
Cilacap, bahwa terdapat hubungan positip antara pengetahuan lingkungan dan
prestasi belajar siswa dengan partisipasi siswa dalam pemeliharaan lingkungan
sekolah, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama. Hal ini
berarti makin luas pengetahuan siswa tentang lingkungan, makin tinggi pula
tingkat partisipasi siswa dalam pemeliharaan lingkungan sekolah. Demikian juga,
makin tinggi prestasi belajar siswa, makin tinggi pula partisipasi siswa dalam
pemeliharaan lingkungan sekolah.
Hasil
penelitian ini juga membuktikan bahwa pengetahuan siswa tentang lingkungan dan
prestasi belajar siswa memberikan kontribusi yang nyata terhadap tingkat
partisipasi siswa dalam pemeliharaan lingkungan sekolah.
Hasil
belajar kognitif PKLH yang tinggi dan sikap siswa yang lebih baik terhadap kesehatan
lingkungan akan menghasilkan partisipasi siswa yang tinggi dalam kegiatan
kesehatan lingkungan.
Untuk
meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan kesehatan lingkungan sekolah,
maka diperlukan adanya peningkatan hasil belajar kognitif PKLH dan pembinaan
sikap siswa dalam kegiatan kesehatan lingkungan sekolah.
Lili Sutji (2000) mengemukakan hasil
penelitiannya tentang Hubungan Antara Tingkat Pendidikan dan Tingkat Ekonomi
Dengan Partisipasi Masyarakat Dalam Kegiatan Kesehatan Lingkungan di Desa Cijulang,
Kecamatan Cineam, Kabupaten Tasikmalaya, bahwa terdapat hubungan positif antara
tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi, secara sendiri-sendiri maupun secara
bersama-sama, dengan partisipasi masyarakat dalam kegiatan kesehatan
lingkungan. Hal ini berarti makin tinggi tingkat pendidikan dan tingkat
ekonomi, makin tinggi pula tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan
kesehatan lingkungan.
Berdasarkan
hasil penelitian Lili Sutji tersebut di atas, diharapkan akan diperoleh hasil
yang senada dengan penelitian ini, dimana makin tinggi hasil belajar kognitif
PKLH dan sikap terhadap lingkungan, akan diperoleh tingkat partisipasi siswa
dalam kesehatan lingkungan sekolah.
Aning
Effendi (2000) mengemukakan hasil penelitiannya tentang Hubungan Antara Pengetahuan
Tentang Kebersihan Lingkungan dan Sikap Terhadap Kebersihan Lingkungan Dengan
Partisipasi Pedagang Dalam Kebersihan Lingkungan di Obyek Wisata Situs
karangkamulyan, Kabupaten Ciamis, bahwa terdapat hubungan positif antara
pengetahuan tentang kebersihan lingkungan dan sikap terhadap kebersihan
lingkungan, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama, dengan
partisipasi pedagang dalam kebersihan lingkungan. Hal ini berarti makin tinggi
pengetahuan tentang lingkungan dan sikap terhadap kebersihan lingkungan, makin
tinggi pula tingkat partisipasi pedagang dalam kebersihan lingkungan.
Berdasarkan
hasil penelitian Aning Effendi tersebut di atas, diharapkan akan diperoleh
hasil yang senada dengan penelitian ini, dimana makin tinggi hasil belajar kognitif
PKLH dan sikap terhadap lingkungan, akan diperoleh tingkat partisipasi siswa
dalam kesehatan lingkungan sekolah.
Dari hasil
penelitian Edi Hernawan (1999), Tarjuki (2000), Lili Sutji (2000), dan Aning
Effendi (2000) tersebut di atas, terdapat perbedaan hasil belajar kognitif siswa tentang PKLH dan sikap siswa
terhadap lingkungan hidup antara siswa dari SD Negeri kota dan siswa dari SD
Negeri luar kota, terdapat hubungan positip antara pengetahuan siswa tentang
lingkungan dan prestasi belajar siswa dengan partisipasi siswa dalam
pemeliharaan lingkungan sekolah, terdapat hubungan positif antara tingkat
pendidikan dan tingkat ekonomi dengan partisipasi masyarakat dalam kegiatan
kesehatan lingkungan, dan terdapatnya hubungan positif antara pengetahuan kebersihan
lingkungan dan sikap terhadap kebersihan lingkungan dengan partisipasi pedagang
dalam kebersihan lingkungan.
Mengacu
pada hasil penelitian tersebut, diharapkan dalam penelitian ini juga terdapat
hubungan positip antara hasil belajar kognitif siswa tentang PKLH dan sikap
siswa terhadap kesehatan lingkungan dengan partisipasi siswa dalam kegiatan
kesehatan lingkungan, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama

Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit (Bag 1)

Standard Ruang Bangunan Rumah Sakit
Tulisan berikut secara berurutan akan kami tuliskan beberapa seri kesehatan lingkungan rumah sakit. Dasar yang dipakai menggunakan masih tetap menggunakan Kepmenkes No.1204/ Menkes/ SK/ X/ 2004 tentang Persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit, serta beberapa sumber referensi lainnya. Kami berharap tulisan ini sedikit dapat menambah wacana dan referensi bagi rekan Sanitarian yang beraktifitas di Unit Sanitasi di Rumah Sakit.


Menurut American Hospital Association (1974) dalam Azwar (1996), definisi dari rumah sakit adalah suatu organisasi yang melalui tenaga medis professional yang terorganisir serta sarana kedokteran yang permanen yang menyelenggarakan pelayanan kedokteran, asuhan keperawatan yang berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan penyakit yang diderita pasien.29032010739
Ruang bangunan rumah sakit
Menurut Kepmenkes No.1204/ Menkes/ SK/ X/ 2004 tentang Persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit, penataan ruang bangunan dan penggunaannya harus sesuai dengan fungsi serta memenuhi persyaratan kesehatan yaitu dengan mengelompokkan ruangan berdasarkan tingkat risiko terjadinya penularan penyakit sebagai berikut:
Zona dengan risiko rendah
Zona risiko rendah meliputi: ruang administrasi, ruang komputer, ruang pertemuan, ruang perpustakaan, ruang resepsionis, dan ruang pendidikan dan latihan.
  1. Permukaan dinding harus rata dan berwarna terang.
  2. Lantai harus terbuat dari bahan yang kuat, mudah dibersihkan, kedap air, berwarna terang, dan pertemuan antara lantai dengan dinding harus berbentuk konus.
  3. Langit- langit harus terbuat dari bahan multipleks atau bahan yang kuat, warna terang, mudah dibersihkan, kerangka harus kuat, dan tinggi minimal 2,7 meter dari lantai.
  4. Lebar pintu minimal 1,2 meter dan tinggi minimal 2,1 meter dan ambang bawah jendela minimal 1 meter dari lantai.
  5. Ventilasi alamiah harus dapat menjamin aliran udara di dalam kamar atau ruang dengan baik, bila ventilasi alamiah tidak menjamin adanya pergantian udara dengan baik, harus dilengkapi dengan penghawaan mekanis (exhauster).
  6. Semua stop kontak dan saklar dipasang pada ketinggian minimal 1,4 meter dari lantai.
Zona dengan risiko sedang
Zona risiko sedang meliputi: ruang rawat inap bukan penyakit menular, rawat jalan, ruang ganti pakaian, dan ruang tunggu pasien. Persyaratan bangunan pada zona dengan risiko sedang sama dengan persyaratan pada zona risiko rendah.


Zona dengan risiko tinggi
Zona risiko tinggi meliputi: ruang isolasi, ruang perawatan intensif, laboratorium, ruang penginderaan medis (medical imaging), ruang bedah mayat (autopsy), dan ruang jenazah.
1. Dinding permukaan harus rata dan berwarna terang.
  • Dinding ruang laboratorium dibuat dari porselin atau keramik setinggi 1,5 meter dari lantai dan sisanya dicat warna terang.
  • Dinding ruang penginderaan medis harus berwarna gelap, dengan ketentuan dinding disesuaikan dengan pancaran sinar yang dihasilkan dari peralatan yang dipasang di ruangan tersebut, tembok pembatas antara ruang sinar X dengan kamar gelap dilengkapi dengan transfer cassette.
2. Lantai terbuat dari bahan yang kuat, mudah dibersihkan, kedap iar, berwarna terang, dan pertemuan antara lantai dengan dinding harus berbentuk konus.
3. Langit- langit terbuat dari bahan multipleks atau bahan yang kuat, warna terang, mudah dibersihkan, kerangka harus kuat, dan tinggi minimal 2,7 meter dari lantai.
4. Lebar pintu minimal 1,2 meter dan tinggi minimal 2,1 meter, dan ambang bawah jendela minimal 1 meter dari lantai.
5. Semua stop kontak dan saklar dipasang pada ketinggian minimal 1,4 meter dari lantai.
Zona dengan risiko sangat tinggi.
Zona dengan risiko sangat tinggi meliputi: ruang operasi, ruang bedah mulut, ruang perawatan gigi, ruang rawat gawat darurat, ruang bersalin dan ruang patologi.
  1. Dinding terbuat dari bahan porselin atau vynil setinggi langit- langit atau dicat dengan cat tembok yang tidak luntur dan aman, berwarna terang.
  2. Langit- langit terbuat dari bahan yang kuat dan aman, tinggi minimal 2,7 meter dari lantai.
  3. Lebar pintu minimal 1,2 meter dan tinggi minimal 2,1 meter dan semua pintu kamar harus selalu dalam keadaan tertutup.
  4. Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, mudah dibersihkan, dan berwarna terang.
  5. Harus disediakan gelagar (gantungan) lampu bedah dengan profil baja double INP 20 yang dipasang sebelum pemasangan langit- langit.
  6. Tersedia rak dan lemari untuk penyimpanan reagensia siap pakai.
  7. Ventilasi atau penghawaan sebaiknya digunakan AC tersendiri yang dilengkapi filter bakteri, untuk setiap ruang operasi yang terpisah dengan ruang lainnya. Pemasangan AC minimal 2 meter dari lantai dan aliran udara bersih yang masuk ke dalam kamar operasi berasal dari atas ke bawah. Khusus untuk ruang bedah ortopedi atau transplantasi organ harus menggunakan pengaturan udara UCA (Ultra Clean Air) System.
  8. Tidak dibenarkan terdapat hubungan langsung dengan udara luar, untuk itu harus dibuat ruang antara.
  9. Hubungan dengan ruang scrub-up untuk melihat ke dalam ruang operasi perlu dipasang jendela kaca mati, hubungan ke ruang steril dari bagian cleaning cukup dengan sebuah loket yang dapat dibuka dan ditutup.
  10. Pemasangan gas medis secara sentral diusahakan melalui bawah lantai atau di atas langit- langit.
  11. Dilengkapi dengan sarana pengumpulan limbah medis. 

Kesehatan Lingkungan Masyarakat - Info Kesehatan

Untuk Menilai Keadaan Upaya dan Lingkungan Masyarakat.
Beberapa upaya untuk memperkecil resiko turunnya kualitas lingkungan telah dilaksanakan oleh berbagai instansi terkait seperti pembangunan sarana sanitasi dasar, pemantauan dan penataan lingkungan, pengukuran dan pengendalian kualitas lingkungan. Pembangunan sarana sanitasi dasar bagi masyarakat yang berkaitan langsung dengan masalah kesehatan meliputi penyediaan air bersih, jamban sehat, perumahan sehat yang biasanya ditangani secara lintas sektor. Sedangkan dijajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang kegiatan yang dilaksanakan meliputi pemantauan kualitas air minum, pemantauarn sanitasi rumah sakit, pembinaan dan pemantauan sanitasi tempat-tempat umum, tempat pengolahan makanan, tempat pengolahan pestisida dan sebagainya.
Kesehatan Lingkungan Sekolah,  Kesehatan Lingkungan Masyarakat,  Kesehatan Lingkungan Kerja, Kesehatan  Lingkungan Rumah Sakit, Kesehatan  Lingkungan Hidup, Kesehatan  Lingkungan Pemukiman, Kesehatan Lingkungan  ppt, Kesehatan Lingkungan  Industri, Kesehatan Lingkungan Puskesmas
Beberapa indikator kesehatan lingkungan sebagai berikut:
1. Penggunaan Air Bersih
Untuk tahun 2007 jumlah keluarga yang diperiksa yang memiliki akses air bersih 72,35 persen. Dari hasil inspeksi sanitasi petugas Puskesmas penggunaan air bersih pada setiap keluarga yang paling tertinggi adalah sumur gali +34,99%, sumur pompa tangan +31,86% ledeng +18,59.
2. Rumah Sehat
Bagi sebagian besar masyarakat, rumah merupakan tempat berkumpul bagi semua anggota keluarga dan menghabiskan sebagian besar waktunya, sehingga kondisi kesehatan perumahan dapat berperan sebagai media penularan penyakit diantara anggota keluarga atau tetangga sekitarnya. Pada tahun 2007 telah dilakukan pemeriksaan rumah sehat di 40 wilayah Puskesmas di kab.Tangerang, dari hasil inspeksi sanitasi 560.426 rumah maka 68,34 persen dinyatakan sehat.
3. Keluarga Dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar.
Keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar meliputi persediaan air bersih, kepemilikan jamban keluarga, tempat sampah dan pengelolaan air limbah keluarga keseluruhan hal tersebut sangat diperlukan didalam peningkatan kesehatan lingkungan. Dari hasil pendataan yang dilakukan oleh sanitasi Puskesmas menggambarkan sampai tahun 2007 dapat digambarkan pada grafik berikut.
4. Tempat Umum dan Pengolahan Makanan
Makanan termasuk minuman, merupakan kebutuhan pokok dan sumber utama bagi kehidupan manusia, namun makanan yang tidak dikelola dengan baik justru akan menjadi media yang sangat efektif didalam penularan penyakit saluran pencernaan. Terjadinya peristiwa keracunan dan penularan penyakit akut yang sering membawa kematian banyak bersumber dari makanan yang berasal dari tempat pengolahan makanan khususnya jasaboga, rumah makan dan makanan jajanan yang pengelolaannya tidak memenuhi syarat kesehatan atau sanitasi lingkungan.
Kesehatan Masyarakat
Pengertian Informasi Penyakit Menular Seksual
A. Virus HIV
HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4 sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang pada akhirnya tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit walaupun yang sangat ringan sekalipun. Tanpa kekebalan tubuh maka ketika diserang penyakit maka tubuh kita tidak memiliki pelindung. Dampaknya adalah kita dapat meninggal dunia terkena pilek biasa.
B. Penyakit AIDS
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yang merupakan dampak atau efek dari perkembang biakan virus hiv dalam tubuh makhluk hidup. Virus HIV membutuhkan waktu untuk menyebabkan sindrom AIDS yang mematikan dan sangat berbahaya. Penyakit AIDS disebabkan oleh melemah atau menghilangnya sistem kekebalan tubuh yang tadinya dimiliki karena sel CD4 pada sel darah putih yang banyak dirusak oleh Virus HIV.
Pengertian Dampak Pencemaran Lingkungan Hidup dan Tubuh Manusia.
Pencemaran suara adalah gangguan pada lingkungan yang diakibatka oleh bunyi atau suara yang mengganggu ketentraman makhluk hidup di sekitarnya. Pencemaran suara biasanya diukur dalam satuan dB atau desibel.
Berikut ini adalah beberapa efek samping negatif dari pencemaran suara :
a. stres
b. gila
c. perubahan denyut nadi
d. tekanan darah berubah
e. gangguan fungsi jantung
f. kontraksi perut
Pengertian Diabetes Mellitus
Diabetes melitus adalah suatu penyakit gangguan kesehatan di mana kadar gula dalam darah seseorang menjadi tinggi karena gula dalam darah tidak dapat digunakan oleh tubuh. Diabetes Mellitus / DM dikenal juga dengan sebutan penyakit gula darah atau kencing manis yang mempunyai jumpah penderita yang cukup banyak di Indonesia juga di seluruh dunia. Kadar gula yang tinggi akan dibuang melalui air seni. Dengan demikian air seni penderita kencing manis akan mengandung gula sehingga sering dilebung atau dikerubuti semut. Selanjutnya orang tersebut akan kekurangan energi / tenaga, mudah lelah, lemas, mudah haus dan lapar, sering kesemutan, sering buang air kecil, gatal-gatal, dan sebagainya. Kandungan atau kadar gula penderita diabetes saat puasa adalah lebih dari 126 mg/dl dan saat tidak puasa atau normal lebih dari 200 mg/dl. Pada orang normal kadar gulanya berkisar 60-120 mg/dl.
Diabetes bukan 100% penyakit turunan. Diabetes melistus bisa disebakan riwayat keturunan maupun disebabkan oleh gaya hidup yang buruk. Setiap orang bisa terkena penyakit kencing manis baik tua maupun muda. Waspada bagi anda yang memiliki orang tua yang merupakan pengidap diabetes, karena anda akan juga memiliki bakat gula darah jika tidak menjalankan gaya hidup yang baik. Resiko terkena diabetes dapat dikurangi dengan mengatur pola makan yang sehat, rajin olahraga, tidur yang cukup, menghindari rokok mirasantika dan lain sebagainya. Bagi anda yang sudah terkena diabetes sebaiknya berolahraga setiap pagi, makan makanan yang bergizi rendah karbohidrat dan lemak namun tinggi protein, vitamin dan mineral. Perbanyak makan sayuran dan makanan berserat tinggi lainnya.

Kesehatan Lingkungan Kerja atau Higiene Industri

Kesehatan lingkungan kerja sering kali dikenal juga dengan istilah Higiene Industri atau Higiene Perusahaan. Kegiatannya bertujuan agar tenaga kerja terlindung dari berbagai macam resiko akibat lingkungan kerja. Menurut Suma’mur (1976) Higiene Perusahaan adalah spesialisasi dalam ilmu hygiene beserta prakteknya yang melakukan

penilaian pada faktor penyebab penyakit secara kualitatif dan kuantitatif di lingkungan

kerja Perusahaan, yang hasilnya digunakan untuk dasar tindakan korektif pada lingkungan, serta pencegahan, agar pekerja dan masyarakat di sekitar perusahaan terhindar dari bahaya akibat kerja, serta memungkinkan mengecap derajat Kesehatan
yang setinggi- tingginya.
Kesehatan Lingkungan Sekolah,  Kesehatan Lingkungan Masyarakat,  Kesehatan Lingkungan Kerja, Kesehatan  Lingkungan Rumah Sakit, Kesehatan  Lingkungan Hidup, Kesehatan  Lingkungan Pemukiman, Kesehatan Lingkungan  ppt, Kesehatan Lingkungan  Industri, Kesehatan Lingkungan Puskesmas
Di Indonesia, upaya Kesehatan lingkungan kerja dikembangkan selaras dengan
aspek ergonomi, kesehatan dan keselamatan kerja, baik dari segi keilmuan maupun
penerapannya. Sedang pada perusahaan besar diberbagai Negara, pelaksananya adalah
Industrial Hygienist yang mempunyai latar belakang pendidikan teknis yang memperoleh
tambahan pengetahuan dibidang lain yang terkait seperti fisika, kimia, kesehatan,
kedokteran dan sebagainya.

Dalam penerapan Kesehatan lingkungan kerja dikenal tiga aspek utama yakni pengenalan, penilaian dan pengendalian lingkungan kerja. Teknik identifikasi/
pengenalan lingkungan kerja dapat dilakukan melalui suatu “ walk through survey “ atau survey pendahuluan berupa pencatatan data dan observasi secara umum seperti nama
bagian, jumlah pekerja, proses produksi/ lay out proses, bagan perusahaan dan
dilanjutkan dengan pengamatan tentang potensi bahaya, jenis mesin/ peralatan, tanda
peringatan, tata rumah tangga, tanggap darurat, tehnologi pengendalian yang ada dan
sebagainya.

Kegiatan tersebut dilakukan oleh ahli hygiene perusahaan, yang berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya, seringkali telah dapat menentukan
permasalahan lingkungan kerja di perusahaan, secara garis besar.
Dengan demikian, pengenalan lingkungan bermanfaat guna mengetahui secara
kualitatif bahaya potensial di tempat kerja, menentukan lokasi, jenis dan metode
pengujian yang perlu dilakukan.

Pada tahap penilaian / evaluasi lingkungan, dilakukan pengukuran, pengambilan
sampel dan analisis di laboratorium. Melalui penilaian lingkungan dapat ditentukan
kondisi lingkungan kerja secara kuant itatif dan terinci, serta membandingkan hasil
pengukuran dan standar yang berlaku, sehingga dapat ditentukan perlu atau tidaknya
teknologi pengendalian, ada atau tidaknya korelasi kasus kecelakaan dan penyakit akibat kerja dengan lingkungannya , serta sekaligus merupakan dokumen data di tempat kerja .

Penerapan pengendalian merupakan metode teknik untuk menurunkan tingkat factor bahaya lingkungan sampai batas yang masih dapat ditolerir dan sekaligus
melindungi pekerja.

Kesehatan Lingkungan Kerja di Tempat Lingkungan Kerja

LINGKUNGAN tempat bekerja ternyata dapat menjadi ancaman bagi kesehatan karyawan. Bagaimana itu bisa terjadi?

Bagi orang-orang yang masih aktif bekerja, hampir separuh waktu hidupnya dihabiskan di lingkungan tempat bekerja. Interaksi yang cukup lama itu ternyata juga membawa dampak bagi kesehatan masing-masing pekerja.

Bayangkan jika Anda bekerja di sebuah industri dengan berbagai peralatan teknologi di dalamnya. Belum lagi bagi Anda yang bekerja di lingkungan bekerja yang menggunakan bahan-bahan kimia sebagai faktor pendukung.

Kesehatan Lingkungan Sekolah,   Kesehatan Lingkungan Masyarakat,  Kesehatan Lingkungan Kerja, Kesehatan   Lingkungan Rumah Sakit, Kesehatan  Lingkungan Hidup, Kesehatan   Lingkungan Pemukiman, Kesehatan Lingkungan  ppt, Kesehatan Lingkungan   Industri, Kesehatan Lingkungan Puskesmas

Interaksi karyawan dengan teknologi maupun bahan- bahan pendukung saat bekerja untuk menghasilkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat luas ternyata dapat menimbulkan beragam penyakit bagi karyawan.

Seperti diungkapkan Ir Iyus Hidayat Mkes, pembicara dari Hiperkes Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI, dalam pelatihan "Pengaruh Bahan Kimia terhadap Kesehatan Tenaga Kerja" yang diselenggarakan oleh Lippo Cikarang beberapa waktu lalu. Dia mengungkapkan bahwa penggunaan teknologi memiliki dua sisi yang berlawanan.

Di satu sisi, teknologi menjadi positif karena mempercepat kinerja manusia dan dapat memberikan kualitas yang lebih baik untuk suatu produk. Namun, di sisi lain, teknologi juga mendatangkan dampak negatif, yakni menimbulkan polusi, baik itu air dan paparan potensi bahaya di lingkungan bekerja.

"Sementara SDM atau karyawan merupakan unsur penting untuk mengolah bahan baku dan peralatan lain yang mendukung," ujarnya.

Dampak negatif yang dikeluarkan teknologi tersebut, menurut Iyus, tentu saja dapat diminimalisasi melalui teknologi pengendalian terhadap lingkungan kerja.

"Juga upaya mencegah dan melindungi tenaga kerja agar terhindar dari dampak negatif dalam melaksanakan pekerjaan," sebutnya.

Pelatihan tersebut diikuti oleh perwakilan tenant yang berada di Delta Silicon. Kawasan tersebut terdapat 285 pabrik/perusahaan yang berada di bawah naungan manajemen Lippo Cikarang. Pelatihan ini diharapkan akan menghasilkan satu iklim kerja kondusif, yakni para tenaga kerja dapat bekerja dengan sehat dan nyaman.

"Pelatihan harus disertai dengan manajemen yang baik. Dengan demikian, tenaga kerja dapat bekerja secara efisien, efektif, dan produktif," harap Managing Direktur PT Lippo Cikarang Harun Permadi.

Untuk tujuan tersebut, pembicara lain dari Balai Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bandung dr Diana Rosa mengatakan, adalah kewajiban perusahaan untuk melindungi tenaga kerja dari gangguan kesehatan yang timbul akibat pekerjaan dan lingkungan kerja.

"Penyelenggaraan kesehatan kerja dapat diwujudkan dengan memberikan bantuan kepada tenaga kerja dalam penyesuaian pekerjaan dan fisik," ungkapnya.

Bantuan tersebut, menurut dia, dapat berupa meningkatkan kesehatan badan, kondisi mental, dan kemampuan fisik karyawan. "Tentu saja upaya tersebut dilakukan dengan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif," ujarnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar